Keseimbangan dalam Tafsir at-Tanwir: Menafsir Al-Qur’an untuk Kehidupan yang Harmonis
Oleh: Maulita Azazkiya
Pendahuluan
Tafsir at-Tanwir merupakan salah satu karya monumental yang dihasilkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang menandai babak baru dalam penafsiran Al-Qur’an di Indonesia. Tafsir ini lahir dari kebutuhan untuk menghadirkan pemahaman Al-Qur’an yang tidak hanya tekstual, tetapi juga kontekstual dan progresif, sejalan dengan dinamika zaman dan tantangan kehidupan modern.
Salah satu ciri utama Tafsir at-Tanwir adalah penekanannya pada prinsip keseimbangan (tawazun), baik dalam aspek ibadah, sosial, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan.
Keseimbangan ini menjadi landasan penting agar ajaran Islam dapat diimplementasikan secara harmonis dalam kehidupan individu dan masyarakat. Melalui pendekatan yang sistematis, kolaboratif, dan melibatkan berbagai kalangan, termasuk akademisi dan aktivis perempuan, Tafsir at-Tanwir berupaya menjawab kebutuhan umat akan tafsir yang responsif dan relevan dengan realitas kontemporer (Rahman, A., & Erdawati, S. 2019). Esai ini akan mengulas bagaimana Tafsir at-Tanwir menekankan prinsip keseimbangan dalam penafsiran Al-Qur’an, metode yang digunakan, serta implikasinya bagi kehidupan umat Islam di Indonesia.
Isi
Tafsir at-Tanwir menonjolkan keseimbangan sebagai prinsip utama dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Keseimbangan ini tercermin dalam berbagai aspek, mulai dari metodologi penafsiran hingga substansi pesan yang disampaikan. Secara metodologis, Tafsir at-Tanwir menggabungkan metode tahlili (penafsiran ayat per ayat secara berurutan) dengan metode tematik (maudhu’i), yang dikenal sebagai metode tajdidi. Metode ini memungkinkan penafsiran yang komprehensif, di mana ayat-ayat yang berkaitan dengan tema tertentu dikaji secara mendalam dan saling melengkapi, sehingga menghasilkan pemahaman yang utuh dan seimbang (Setiawan, B. 2022). Pendekatan ini juga memperhatikan munasabah atau keterkaitan antar ayat, sehingga pesan Al-Qur’an tidak dipahami secara parsial, melainkan dalam konteks yang lebih luas dan relevan dengan kehidupan modern.
Dari sisi substansi, Tafsir at-Tanwir menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek ibadah dan muamalah, antara kepentingan individu dan masyarakat, serta antara nilai-nilai spiritual dan kemajuan ilmu pengetahuan. Misalnya, dalam membahas ayat-ayat tentang ibadah, Tafsir at-Tanwir tidak hanya menyoroti aspek ritual, tetapi juga menekankan dimensi sosial dan etika yang menyertainya. Hal ini sejalan dengan ethos Muhammadiyah yang menekankan pentingnya amal shaleh yang berdampak pada kemaslahatan sosial (Rahman, A., & Erdawati, S. 2019). Selain itu, Tafsir at-Tanwir juga memberikan perhatian pada isu-isu kontemporer seperti ekonomi, lingkungan, dan pendidikan, dengan tetap berpegang pada prinsip keseimbangan antara tradisi dan pembaruan (tajdid) (Asnajib, M. 2020).
Tafsir at-Tanwir tidak hanya menekankan keseimbangan dalam aspek ibadah dan sosial, tetapi juga dalam pendekatan keilmuan dan metodologi penafsiran. Tafsir ini dikenal sebagai “tafsir akademik” karena melibatkan para akademisi dari berbagai disiplin ilmu dan universitas terkemuka, serta mengintegrasikan referensi dari literatur Arab dan Inggris, sehingga memperkaya sudut pandang dan memperkuat argumen yang disampaikan (Rahman, A., & Erdawati, S. 2019). Keseimbangan dalam Tafsir at-Tanwir juga tercermin dalam proses penulisannya yang melibatkan berbagai pihak, baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah untuk menghadirkan tafsir yang inklusif dan representatif, sehingga mampu menjawab kebutuhan umat secara lebih luas dan beragam (Rahman, A., & Erdawati, S. 2019). Selain itu, penggunaan referensi yang beragam, baik dari literatur Arab maupun Inggris, memperkaya perspektif dan memperkuat argumen yang disampaikan dalam tafsir ini.
Implikasi dari penekanan pada keseimbangan dalam Tafsir at-Tanwir sangat signifikan bagi kehidupan umat Islam di Indonesia. Dengan pendekatan yang moderat dan progresif, Tafsir at-Tanwir mampu menjadi rujukan dalam menghadapi berbagai persoalan kontemporer, seperti radikalisme, ketimpangan sosial, dan tantangan globalisasi. Tafsir ini juga mendorong umat Islam untuk tidak terjebak pada pemahaman yang sempit dan eksklusif, melainkan membuka diri terhadap dialog, inovasi, dan pembaruan yang tetap berlandaskan pada nilai-nilai Al-Qur’an. Dengan demikian, Tafsir at-Tanwir berperan penting dalam membangun masyarakat Islam yang seimbang, harmonis, dan berkemajuan (Asnajib, M. 2020).
Penutup
Tafsir at-Tanwir hadir sebagai jawaban atas kebutuhan umat Islam akan penafsiran Al-Qur’an yang seimbang, kontekstual, dan progresif. Melalui metode tajdidi yang menggabungkan pendekatan tahlili dan tematik, serta melibatkan berbagai pihak dalam proses penulisannya, Tafsir at-Tanwir berhasil menghadirkan pemahaman Al-Qur’an yang utuh dan relevan dengan tantangan zaman. Penekanan pada prinsip keseimbangan tidak hanya memperkaya khazanah tafsir di Indonesia, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam membangun masyarakat yang harmonis, inklusif, dan berkemajuan. Dengan demikian, Tafsir at-Tanwir layak menjadi rujukan utama bagi umat Islam yang ingin memahami dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an secara seimbang dalam kehidupan sehari-hari (Asnajib, M. 2020).
*artikel ini ditulis oleh peserta Sekolah Tarjih dan tidak mewakili pandangan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah
Daftar Pustaka
Asnajib, M. (2020). Perkembangan Paradigma Penafsiran Kontemporer di Indonesia: Studi Kitab Tafsir at-Tanwir. 8, 49-64. https://doi.org/10.24235/diyaafkar.v8i1.5977.
Metode, R., Melalui, P., Tajdidi, M., Rhain, A., Nirwana, A., & Setiawan, B. (2022). Reformulasi Metode Penafsiran Al-Qur’an Melalui Metode Tajdidi. AL QUDS: Jurnal Studi Alquran dan Hadis. https://doi.org/10.29240/alquds.v6i3.5299.
Rahman, A., & Erdawati, S. (2019). Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah Dalam Sorotan (Telaah Otoritas Hingga Intertekstualitas Tafsir). 18, 212-227. https://doi.org/10.18592/jiiu.v18i2.3229.
