KHGT DAN SIMBOLISASI PERSATUAN UMAT
Oleh: Mochammad Noor Bassam Alfakhri
Umat Islam memiliki sistem penanggalan yang disebut hijriah. Kalender Hijriah dibuat menggunakan bulan sebagai landasan perhitungannya. Berbeda dengan kalender Masehi atau Gregorian, pergantian hari dalam Hijriah dimulai setelah tenggelamnya matahari. Selain itu, penanggalan Hijriah sering menjadi masalah global bagi Umat Islam, terkhusus pada penetapan awal bulan Hijriah seperti Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah yang menjadi momentum peribadatan penting bagi setiap muslim.
Penetapan tanggal yang berbeda dikarenakan sistem matlak (tempat terbit) yang berbeda-beda menyebabkan sering terjadinya polemik dan perpecahan umat. Oleh karena itu, Muhammadiyah menawarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai alat mempersatukan umat dalam beribadah.
Pada penentuan tanggal Hijriah, umat islam berbeda pendapat tentang sebuah matlak, apakah satu matlak bisa digunakan untuk menentukan tanggal pada semua kawasan, atau bersifat regional/zonal. Di sini Muhammadiyah dengan KHGT-nya memberikan solusi penanggalan global yang dengan pandangan bahwa seluruh dunia ini merupakan satu matlak saja. Sistem kalender ini diadopsi dari Kalender Hijriah Global yang dicetuskan Istanbul pada 2016 silam.
Adapun sistem tunggal ini diwujudkan dengan memandang bahwa seluruh dunia merupakan satu matlak, yang itu artinya diperlukan perhitungan yang bisa menyatukan perbedaan waktu di dunia. Dihitung sebagai bulan baru jika di seluruh dunia pada sebelum pukul 00.00 telah memenuhi elongasi minimal 8º ketika matahari terbenam, dan ketinggian bulan di atas ufuk kala itu berada di 5º atau lebih. Lalu apabila kriteria tersebut terpenuhinya setelah pukul 00.00, maka bulan baru tetap bisa terhitung dengan syarat apabila parameter (elongasi, ketinggian, dan ijtimak) yang telah disebutkan telah terjadi di seluruh permukaan bumi sebelum fajar di New Zealand., dan imkanu rukyat tersebut terjadi di Benua Amerika.
Kalender adalah susunan hari, minggu, dan bulan dalam satu tahun. Tujuan adanya kalender agar memudahkan manusia merancang kegiatan yang akan dilaluinya di masa mendatang. Bagi umat islam, sistem penanggalan yang akurat sangat dibutuhkan guna menjalankan ibadah yang ditentukan waktunya. Dalam masalah salat misalnya, ada waktu-waktu tertentu di mana kita tidak boleh salat seperti waktu matahari tepat pada cakrawala di pagi dan sore hari, lalu ketika matahari tepat di tengah hari yang menghilangkan bayang-bayang sekitar. Lebih jauh lagi, waktu berbuka yang berpatokan dengan tenggelamnya matahari hingga ibadah seperti awal mulai puasa dan dua hari raya umat islam. Dalam hal ini kita kalah dengan Umat Kristiani yang menggunakan kalender Masehi yang telah matang. Mereka tidak pernah saling berbeda dalam penentuan awal tahun maupun bulan.
Harapan dari adanya KHGT ini adalah menjadi langkah awal persatuan umat. Secara politis, kesatuan kalender dapat menjadi simbol akan persatuan politik umat. Alih-alih menegakkan persatuan melalui khilafah islam yang agaknya sekarang masih utopis, lebih baik persatuan umat dimulai dari kesatuan waktu beribadah dengan penyatuan kalender islam internasional. Menurut Ilyas, umat Islam perlu sesosok Julian yang menyatukan kalendernya. Perlu adanya satu kekuatan politik yang menjadi otoritas tunggal yang dapat memutuskan sebuah kalender internasional.
*artikel ini ditulis oleh peserta Sekolah Tarjih dan tidak mewakili pandangan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, S. (2023). KALENDER HIJRIAH GLOBAL: TANTANGAN DAN STRATEGI IMPLEMENTASI 18.
Noryanti, W. (2024). PENERAPAN KALENDER HIJRIAH GLOBAL TUNGGAL PERSPEKTIF MUHAMMADIYAH. 132. https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/50210/17421130.pdf?sequence=1&isAllowed=y
