Sekilas Mengenal Kekristenan dan Strategi Kristenisasi di Indonesia
Penulis: Qaem Aulassyahied
Pendahuluan
Diskusi Santri Cendekia Forum edisi ke-4 yang mengangkat tema tentang realitas Kristen di Indonesia kembali dihelat oleh Pusat Tarjih Muhammadiyah di hari Sabtu, 23 Februari 2019. Arif Wibowo selaku penulis buku “Berebut Indonesia “ sekaligus sebagai pemateri pada kajian Santri Cendekia Forum tersebut menghidupkan diskusi dengan berbagai data dan informasi yang kaya terkait dengan kristen ditinjau dari berbagai aspek. Sepanjang diskusi, setidaknya dapat dipetakan dua wacana yang diketengahkan. Pertama, mengenal kristen dari tiga sudut pandang. Kedua, strategi dalam mewujudkan misi kristian di Indonesia.
Tiga Aspek untuk Mengenal Kekristenan
Dalam pemaparan slidenya, -sesuai yang ditangkap oleh notulen- Arif Wibowo mendeskripsikan tiga aspek dalam mengenal kekristenan. Pertama kristen ditinjau sebagai organized religion; kedua, dari segi historical religion dan ketiga missionary religion.
Secara sederhana dapat diketahui bahwa dari segi organized reiligion, Kristen yang dikenal sebagai nama sebuah agama awalnya adalah institusi gereja, tidak merupakan kristen itu sendiri. Mengutip buku “Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam”, Arif Wibowo menyatakan bahwa dipilihnya kata gereja karena memang institusi agama di dalam kristen itu adalah gereja. Orang kristen, yang tidak memiliki kartu resmi gereja, maka dia tidak disebut sebagai kristen. Di Tahun 1474, Marsilio Filicino menulis sebuah buku “De Christiana Religione”. Buku tersebut menandai awal ajaran kristen sebagai sebuah insititusi keagamaan namun tidak secara eksplisit. Salah satu ungkapan di dalam buku itu yang dikutip oleh Arif Wibowo adalah “bahwa siapapun mereka, dalam menyembah dan memuliakan Tuhan harus sebagaimana yang diteladankan dan diajarkan oleh Kristus”. Baru di tahun 1525 Zwingli, pemimpin Protestasn Swiss menulis secara eksplisit istilah “Christian Religion” di dalam buku “De Ver et Falsa Religione Commentarius”. Terlihat rentang tahun yang cukup jauh sampai kristen dikenal sebagai sebuah institusi agama.
Dari segi historical religion, Arif Wibowo melihat bahwa doktrin kristen berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialami oleh penganutnya. Salah satu contoh sejarah yang dipaparkan pemateri dalam hal ini adalah bagaimana doktrin Kristen itu ditentukan oleh penguasa ketika itu. Tepatnya ketika doktrin Kristen telah mendapatkan tempat di hati penduduk Roma, terdapat dua aliran Kristen yang saling bertikai. Aliran Arius yang meyakini bahwa pada dasarnya eksistensi Yesus adalah manusia itu sendiri. Sementara aliran Antanatius menganggap Yesus merupakan Firman Tuhan yang mewujud menjadi daging. Dua pertikaian ini sampai mendorong Raja Konstantin mengadakan Konsili untuk menentukan mana di antara dua keyakinan itu yang akan ditetapkan sebagai doktrin resmi. Arif Wibowo dalam satu informasi menyatakan bahwa Konsili tersebut berakhir pada terpilihnya keyakinan sekte Arius oleh mayoritas Masyarakat. Namun Konstantin lebih memilih menjadikan keyakinan Antanatius karena lebih dekat dengan mitologi Yunani.
Dari segi Missionary Religion, Arif Wibowo memberikan gambaran bahwa hakikatnya Kristen terpecah-pecah menjadi doktrin-doktrin yang berbeda. Pada awalnya Kristen menjadi sebuah ajaran eksklusif disebabkan para pemegang kekuasaan gereja yang begitu otoriter dan diktator. Negara-negara kecil hasil dari pecahan Romawi tunduk kepada kekuasaan Gereja yang memang ketika itu memegang kekuasaan ekonomi. Hal itu berubah selepas pecahnya revolusi Prancis. Perpecahan antara sekte-sekte Kristen yang terjadi terus menerus sampai pada titik jenuh. Berawal dari situ, dihembuskanlah faham prularisme. Di kemudian hari muncul pula Kristen aliran Evangelisme yang memiliki watak keras dengan doktrin tidak ada jalan keselamatan kecuali di jalan Kristen sehingga perlu berusaha dengan cara apapun agar orang memeluk Kristen. Antitesa dari Evangelisme, terdapat Oikumenisme. Paham Kristen ini mengakui berbagai aliran gereja apapapun itu. Sebab bagi paham ini, perbedaan tersebut hanya pada tataran eksoteris, sementara di tataran esoteris hakikatnya semua sama dalam balutan nilai-nilai kristian.
Dua Strategi Belanda Menjalankan Misi Agama Di Indonesia
Dalam Makalahnya, “Tinjauan Historis Kristenisasi di Indonesia”, Arif Wibowo menyebutkan setidaknya ada dua strategi yang diterapkan oleh Belanda di dalam menjalankan misi kolonialisme dan kristenisasinya di Indonesia. Pertama, adalah dengan menetapkan daerah-daerah buffer sebagai penyangga kekuasaan. Daerah ini, selain sebagai penyangga kekuasaan, juga untuk melemahkan kekuataan barisan umat Islam. Daerah yang dijadikan wilayah buffer adalah daerah yang memiliki loyalitas tinggi kepada pemerintah Belanda, seperti Batak, Manado, Minahasa, dan Maluku.
Selain dari itu, pihak Belanda juga menerapkan politik etis di beberapa wilayah tempat dijalankannya politik tanam paksa. Politik etis sebagai bagian dari balas budi pemerintah belanda mewujud menjadi irigasi mirigasi dan edukasi. Arif Wibowo mengungkapkan bahwa ternyata, politik etis ini pun sarat dengan muatan kristenisasi.
Kedua, strategi Belanda juga dijalankan dengan memisahkan Identitas Etnis dengan Identitas Keagamaan. Munculnya kejawen merupakan salah satu keberhasilan dari strategi ini. Sebab, menurut Arif Wibowo kejawen pada hakikatnya adalah jalan melingkar yang ditempuh pihak belanda untuk menjauhkan masyarakat dari Islam. Dalam sejarahnya, Belanda di tahun 1830 mendirikan Instituut Voor Her Javaansche Taal (Lembaga bahasa Jawa) di Surakarta. Di dalamnya terdiri dari para javanolog (ahli-ahli Jawa) Belanda yang memmilik misi untuk menggali kembali kesusastraan, bahasa dan sejaraha jawa kuno agar lekat kembali dengan kehidupan masyarakat dengan harapan tradisi dan kebudayaan itu dapat mengambil alih ajaran Islam yang mulai menjadi nilai-nilai dan tradisi masyarakat ketika itu.
Selain dari itu, Arif Wibowo juga memaparkan bahwa Belanda pun, dalam memuluskan misi kristenisasinya itu, berupaya untuk menghilangkan jejak-jejak budaya dan peradaban Islam. Salah satunya adalah mengumpulkan seluruh batu-batu nisan yang memuat informasi sejarah Islam untuk pada nantinya disusun menjadi benteng-benteng. Hal itu dalam rangka mencabut akar sejarah Islam dari fakta sejarah Indonesia
Di sesi tanya jawab, salah seorang peserta mengungkapkan data yang menarik tentang salah satu lembaga bimbingan belajar yang memiliki satu sesi untuk banyak berinteraksi dengan native speaker asli Amerika dan mengenalkan lebih jauh akan isi Injil dan ajaran Kristian. Menganggapi itu, Arif Wibowo memaparkan bahwa memang dalam fase penginjilan terdapat dua fase yang harus dilalui, (1) fase pra-penginjilan dan (2) prosesi penginjilan. Pada fase pertama itulah biasanya terdapat sekolah atau lembaga pendidikan yang didirkan oleh pegiat Kristen tidak dalam misi mengkristenkan, tetapi hanya membincangkan lebih jauh tentang Kristen dan memberikan kesan positif terhadap hal-hal yang berkaitan dengan komuntas kristen.
Meski hanya pada fase pengenalan dan pencitraan positif, namun fase ini sangat penting dalam menentukan kesuksesan misi kristensisasi. Sebab Arif Wibowo di dalam makalahnya mengungkapkan metode seperti ini telah diterapkan semenjak awal kemerdekaan, dan pasca kemerdekaan telah menunjukkan hasil yang positif. Mengutip catatan Frank Snow, alumni London Bible College mengungkapkan bahwa antara 1958-1970 di indonesia sekitar 70%- 80% orang yang “bertobat ke agama Kristen” pernah mengecam dan masuk sekolah kristen, meskipun sekolah kristen tersebut tidak melakukan kristenisasi secara langsung.
Pentashih: Arif Wibowo