Tafsir At-Tanwir: Upaya Muhammadiyah Membumikan Al-Qur’an dalam Kehidupan Modern
oleh: Hajar Aswat T.Koko
ABSTRAK
Tafsir At-Tanwir merupakan kontribusi penting Muhammadiyah dalam menjawab tantangan zaman melalui pendekatan penafsiran Al-Qur’an yang tematik, kontekstual, dan progresif. Dalam perspektif pendidikan, tafsir ini menjadi instrumen penting dalam mengintegrasikan nilai-nilai Qur’ani ke dalam proses pembelajaran dan pengembangan karakter peserta didik.
Artikel ini membahas bagaimana Tafsir At-Tanwir menjadi fondasi ideologis dan metodologis dalam pendidikan Muhammadiyah, perannya dalam membentuk guru sebagai agen nilai Qur’ani, serta tantangan dan solusi penerapannya di lembaga pendidikan. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Hasil analisis menunjukkan bahwa Tafsir At-Tanwir memberikan arah transformasi pendidikan Islam ke arah yang lebih membumi, adaptif, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan universal.
Kata kunci: Tafsir At-Tanwir, Muhammadiyah, Pendidikan Islam, Nilai Qur’ani, Kontekstualisasi.
PENDAHULUAN
Di tengah tantangan global abad ke-21 seperti krisis moral, digitalisasi, dan komersialisasi pendidikan, peran Al-Qur’an sebagai pedoman hidup semakin penting untuk dimaknai secara aktual. Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam tajdid, merespons hal ini melalui penyusunan Tafsir At-Tanwir, sebuah karya tafsir tematik yang berupaya membumikan pesan-pesan Al-Qur’an dalam realitas kehidupan modern. Dalam ranah pendidikan, tafsir ini menjadi penting karena dapat menjawab kebutuhan peserta didik terhadap nilai-nilai Islam yang relevan dan aplikatif. Pendidikan yang berlandaskan Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai sarana transmisi ilmu, melainkan juga sebagai media transformasi nilai dan pembentukan akhlak mulia.
Melalui pendekatan tematik dan kontekstual, Tafsir At-Tanwir tidak hanya menjelaskan makna ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga memberi arahan praktis bagi dunia pendidikan. Ini sejalan dengan visi Muhammadiyah dalam menciptakan insan berilmu, beriman, dan berakhlak. Oleh karena itu, pembahasan dalam tulisan ini difokuskan pada kontribusi Tafsir At-Tanwir dalam pembaruan pendidikan Islam, khususnya dalam sistem pendidikan Muhammadiyah.
PEMBAHASAN
- Tafsir At-Tanwir sebagai Inovasi Pendidikan Islam
Tafsir At-Tanwir merupakan upaya Muhammadiyah untuk menghadirkan Al-Qur’an dalam kehidupan nyata umat Islam, termasuk dalam pendidikan. Disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, tafsir ini menggunakan pendekatan tematik-kontekstual yang berbeda dari tafsir klasik. Menurut Nashir (2019), pendekatan ini memungkinkan Al-Qur’an tetap relevan menjawab persoalan sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan umat Islam.
Dalam konteks pendidikan, Tafsir At-Tanwir menjadi alat untuk menanamkan nilai-nilai Qur’ani dalam berbagai mata pelajaran. Nilai-nilai seperti keadilan, kejujuran, tanggung jawab, dan toleransi ditanamkan dalam proses belajar mengajar, menjadikan pendidikan sebagai media transformasi sosial.
2. Urgensi Pembumian Al-Qur’an dalam Sistem Pendidikan
Pendidikan Islam yang ideal bukan hanya bertujuan mentransfer pengetahuan, tetapi juga mentransformasikan karakter peserta didik agar selaras dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Tafsir At-Tanwir berperan besar dalam proses ini dengan menekankan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an harus dijadikan pedoman hidup yang membumi.
Sebagai contoh, QS Al-‘Alaq ayat 1-5 menekankan pentingnya membaca dan belajar sebagai aktivitas yang bernilai ibadah. Dalam Tafsir At-Tanwir, ayat ini dimaknai sebagai dasar pendidikan berbasis pembebasan dan pemberdayaan. Ini mengimplikasikan bahwa proses pendidikan harus membebaskan peserta didik dari kebodohan dan ketertindasan (Abdullah, 2010).
3. Internalisasi Nilai Qur’ani dalam Kurikulum Pendidikan Muhammadiyah
Tafsir At-Tanwir memberi inspirasi dalam perumusan kurikulum pendidikan Muhammadiyah. Kurikulum tidak hanya berisi konten keilmuan, tetapi juga nilai-nilai Qur’ani yang diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran. Dalam pembelajaran IPA, misalnya, nilai keadilan ekologis dapat diajarkan melalui ayat-ayat tentang penciptaan alam dan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan (QS Ar-Rum: 41).
Pendekatan ini menciptakan pendidikan holistik yang tidak memisahkan antara ilmu pengetahuan dan agama. Sebagaimana dikemukakan Amin Abdullah (2010), pendekatan integratif-interkonektif menjadi kunci pendidikan Islam masa depan yang tidak dikotomis.
4. Peran Guru sebagai Agen Pembumian Al-Qur’an
Guru adalah aktor utama dalam pembumian Al-Qur’an melalui proses pendidikan. Dengan merujuk pada Tafsir At-Tanwir, guru didorong menjadi fasilitator yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Yuliati (2021) menegaskan bahwa guru abad ke-21 harus mampu membimbing siswa melalui pendekatan reflektif dan kontekstual.
Program pelatihan guru Muhammadiyah juga mulai memasukkan materi manhaj tarjih dan tafsir At-Tanwir untuk memperkuat landasan ideologis para pendidik. Hal ini penting agar nilai-nilai Al-Qur’an tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi mengalir dalam etos kerja dan interaksi sosial guru.
5. Implementasi Tafsir At-Tanwir dalam Lembaga Pendidikan Muhammadiyah
Banyak sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah telah mengadopsi prinsip-prinsip Tafsir At-Tanwir dalam pengelolaan pendidikan. Misalnya, kegiatan “Tadarus Tematik” setiap pekan yang membahas tafsir ayat-ayat Al-Qur’an sesuai isu terkini, atau program “Sekolah Ramah Anak” yang mengacu pada nilai kasih sayang dan penghargaan terhadap hak anak (QS An-Nahl: 125).
Universitas Ahmad Dahlan dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta juga menjadikan Tafsir At-Tanwir sebagai rujukan dalam mata kuliah Pendidikan Islam Kontemporer. Hal ini menunjukkan bahwa tafsir ini tidak hanya hidup dalam kajian ilmiah, tetapi juga dalam praktik pendidikan nyata.
6. Tantangan dan Solusi dalam Pembumian Tafsir At-Tanwir
Tantangan utama dalam membumikan Tafsir At-Tanwir di dunia pendidikan adalah:
- Masih terbatasnya pemahaman guru terhadap pendekatan tafsir tematik-kontekstual;
- Kurangnya bahan ajar yang berbasis At-Tanwir;
- Kesenjangan antara idealisme tafsir dan praktik pembelajaran.
Solusi yang dapat dilakukan antara lain:
- Pelatihan guru secara berkala berbasis manhaj tarjih dan tafsir tematik;
- Pengembangan modul pembelajaran berbasis nilai-nilai Qur’ani;
- Integrasi tafsir At-Tanwir ke dalam kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler.
KESIMPULAN
Tafsir At-Tanwir merupakan wujud konkret komitmen Muhammadiyah dalam menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama pembaruan pendidikan. Dengan pendekatan tematik dan kontekstual, tafsir ini mampu menjadi panduan bagi dunia pendidikan dalam membentuk insan berkarakter, berilmu, dan berkeadaban. Peran guru, kurikulum, dan kelembagaan menjadi kunci keberhasilan pembumian nilai-nilai Qur’ani dalam sistem pendidikan nasional.
*artikel ini ditulis oleh peserta Sekolah Tarjih dan tidak mewakili pandangan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, A. (2010). Islam sebagai Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. (2022). Tafsir At-Tanwir Juz 30. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Nashir, H. (2019). Islam Berkemajuan sebagai Ideologi. Jakarta: Suara Muhammadiyah.
Quraish Shihab. (2002). Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.
Yuliati, L. (2021). Peran guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran sains abad ke-21. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains, 2(1), 50–57.
